Rabu, 01 September 2010

Riset ampuhnya Temulawak

Penelitian Robert J Gonco DDS, PhD dari Amerika Academy of Periontology (APP) di Amerika Serikat membuktikan dampak buruk plak gigi itu. Bahkan penelitian lanjutan yang berjalan sejak 1996 itu mengungkapkan fakta lain : plak gigi menyebabkan gangguan kehamilan dan osteoporosis atau tulang rapuh.

Plak gigi merupakan lapisan tipis yang dihuni sisa-sisa makanan halus, bakteri, dan cendawan. Lapisan itu dibungkus air liur sehingga dapat mengeras. “plak dapat terbentuk setengah jam setelah makan,” kata drg Endang Wahyuningsih MS SpPros dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Pasta Gigi

Dampak buruk plak itu mendorong Prof Jae Kwan Hwang dan timnya dari Departemen of Biotechnology Yonsei University mencari herba yang berkhasiat sebagai benteng pertahanan gigi. Hasilnya penelitian itu mengerucut pada tanaman temulawak Curcuma xanthorriza.

Dari presentasi Hwang pada The 1st International Symposium on Temulawak di IPB pada Mei 2008, terungkap xanthorrizol pada rimpang temulawak tokcer sebagai antimikroba dan antibakteri. Ekstrak temulawak membuat bakteri Streptococcus, Antinomyces viscosus, dan Porphyromonas gingivalis di gigi mati. Xanthorrizol memicu denaturasi protein sel bakteri yang ujung-ujungnya memaksa protein itu keluar sel. Berikutnya sel akan mengkerut dan mati. Karena keampuhan itu temulawak kini dilirik industry pasta gigi di Korea Selatan.

Antioksidan

Sebagai obat jerawat rimpang anggota family Zingiberacceae itu juga tokcer. Penelitian Irmanida Batubara Msi dan kolega : Tohru Mitsunaga serta Hideo Ohsashi dari Gifu University di Jepang, menunjukkan jerawat akibat bakteri Propionibacterium acnes bisa sembuh dengan temulawak. Ekstrak rimpang memakai matanol dan 50% etanol cukup menghambat daya serang bakteri itu melalui mekanisme penghambatan aktivitas lipase-semacam enzim katalisator.

Uji lain menunjukkan kerabat kunyit itu bisa menekan serangan malaria. Lihat data WHO yang menyebutkan 41% penduduk dunia beresiko terinfeksi malaria. Parahnya lagi pengobatan yang sudah berjalan dengan obat antimalaria berbahan aktif klorokin membuat resistensi pada Plasmodium falciparum-penyebab malaria tertiana.

Riset-riset ilmiah yang dilakukan berbagai pihak memang langkah maju untuk menyibak semua potensi temulawak. Titik akhir dari semua itu adalah terjaminnya keamanan dam keselamatan konsumen sehingga temulawak dapat mendunia. (Dian Adijaya S/Peliput : Tri Susanti).

Sumber : majalah TRUBUS 465

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar