Senin, 22 November 2010

Fenomena Meningkatnya Kasus Necrotic Enteritis


Necrotic Enteritis (NE) merupakan jenis penyakit yang belakangan ini fenomenanya cenderung mengalami peningkatan kasus cukup signifikan dilapangan. Kasus NE tercatat banyak menimbulkan permasalahan pada peternakan ayam broiler modern, namun demikian cukup banyak juga dilaporkan terjadi pada peternakan ayam petelur komersial serta breeder (peternakan ayam pembibitan).

Kasus NE secara langsung menyebabkan gangguan fungsi sistem pencernaan, sehingga dinilai sangat merugikan secara ekonomis berkenaan dengan gangguan efesiensi pakan (FCR yang meningkat cukup signifikan) dan gangguan pertumbuhan serta sejumlah kematian. Dari sisi biaya yang harus dikeluarkan oleh peternak ayam broiler untuk pengobatan terhadap NE, untuk setiap ekor ayamnya dapat mencapai antara Rp 400 – 500 tergantung derajat keparahan penyakit, lama waktu pengobatan serta umur ayam saat dilakukan pengobatan.

Necrotic Enteritis merupakan salah satu penyakit infeksius yang disebabkan oleh bakteri jenis Clostridium perfringens, dimana tergolong bakteri gram-positif, bersifat anaerobic, umum dapat ditemukan di tanah, litter, debu dan pada level yang rendah ditemukan dalam usus ayam sehat. Clostridium perfringens hanya akan menyebabkan NE bila karena kondisi yang mendukung dalam saluran pencernaan ayam, bakteri tersebut berubah sifat dari type yang tidak memproduksi toksin menjadi type yang mampu memproduksi toksin.

Beberapa type Clostridium perfringens

Terdapat lima type dari Clostridium perfringens (A, B, C, D and E) dimana mampu memproduksi sejumlah toksin seperti toksin: alpha, beta, epsilon, iota and toksin CPE. Alpha toksin dan enzim phospholipase C diyakini sebagai kunci penyebab terjadinya NE. Namun demikian dari studi yang dilakukan oleh pada ahli belakangan ini, isolat dari Clostridium perfringens yang tidak memproduksi alpha toksin tetap dapat menimbulkan terjadinya NE.

Sebagai tambahan, toksin yang disebut NetB belakangan ini diidentifikasi dapat menyebabkan terjadinya NE yang disebabkan oleh salah satu isolat Clostridium perfringens (Anthony Keyburn, CSIRO Livestock Industries Researchers).

Usus dari ayam yang terinfeksi Clostridium perferingens menjadi rapuh dan menggelembung disertai adanya timbunan gas dan lesi-lesi bersifat nekrosis yang menyebar cukup luas disebabkan oleh toksin yang dihasilkan oleh Clostridium perfringens tersebut. Pada kejadian yang bersifat akut, sering kali adanya kematian pada ayam yang terinfeksi tidak disertai adanya gejala klinis. Namun demikian pada bentuk yang subklinis, lebih banyak menimbulkan kerugian secara ekonomis berupa gangguan pertumbuhan dan problem efesiensi pakan.

Gejala klinis dan lesi

Gejala awal dari ayam yang mengalami infeksi Clostridium perfringens penyebab NE serikali nampak ayam mengalami diare dengan kotoran agak encer warna merah kecoklatan (seperti warna buah pepaya) disertai dengan cairan asam urat yang keluar bersama feces dan terkadang fecesnya bercampur dengan sejumlah material pakan yang tidak tercerna secara sempurna. Akibat terjadinya diare, litter nampak cepat basah dan cemaran ammonia jadi meningkat cukup tajam ada dalam kandang, sehingga dapat memperparah kondisi sakit dari ayam dan meningkatnya jumlah kematian. Pada ayam broiler, seringkali kasus NE dapat diamati cukup jelas saat memasuki umur 3 (tiga) minggu keatas.

Gangguan pertumbuhan (pertumbuhan melambat) dan problem efisiensi pakan (FCR jadi membengkak) disebabkan karena rusaknya dinding usus oleh toksin yang dihasilkan oleh infeksi Clostridium perfringens, dimana terjadi gangguan penyerapan nutrisi pakan oleh dinding usus. Contoh gambar dibawah menunjukkan tingkatan derajat lesi disebabkan oleh paparan Alpha toksin yang dihasilkan oleh infeksi Clostridium perfringens (derajat lesi dari tingkat 1 – 4), dimana semakin berat derajat lesinya, maka semakin berkurang nutrisi yang mampu diserap oleh dinding usus, sehingga sangat berdampak pada gangguan pertumbuhan dan membengkaknya FCR.

Secara khusus kasus NE yang bersifat sporadik seringkali dapat terjadi pada peternakan ayam, baik pada peternakan ayam broiler (pedaging), petelur komersial maupun breeder, dapat terjadi bila mana tidak digunakannya antibiotika yang berfungsi sebagai growth promoters atau problem infeksi oleh Emeria spp. penyebab Koksidiosis tidak terkontrol dengan maksimal, praktik manajemen pemeliharaan ayam dibawah standar (tidak sesuai dengan keinginan ayam modern), serta pakan dengan kandungan NSP (Non Starch Polisacharida = Karbohidrat bukan Pati) yang cukup tinggi dan sumber protein asal hewani yang cukup tinggi kandungannya dalam sediaan pakan.

(www.majalahinfovet.com)

Rabu, 01 September 2010

Riset ampuhnya Temulawak

Penelitian Robert J Gonco DDS, PhD dari Amerika Academy of Periontology (APP) di Amerika Serikat membuktikan dampak buruk plak gigi itu. Bahkan penelitian lanjutan yang berjalan sejak 1996 itu mengungkapkan fakta lain : plak gigi menyebabkan gangguan kehamilan dan osteoporosis atau tulang rapuh.

Plak gigi merupakan lapisan tipis yang dihuni sisa-sisa makanan halus, bakteri, dan cendawan. Lapisan itu dibungkus air liur sehingga dapat mengeras. “plak dapat terbentuk setengah jam setelah makan,” kata drg Endang Wahyuningsih MS SpPros dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Pasta Gigi

Dampak buruk plak itu mendorong Prof Jae Kwan Hwang dan timnya dari Departemen of Biotechnology Yonsei University mencari herba yang berkhasiat sebagai benteng pertahanan gigi. Hasilnya penelitian itu mengerucut pada tanaman temulawak Curcuma xanthorriza.

Dari presentasi Hwang pada The 1st International Symposium on Temulawak di IPB pada Mei 2008, terungkap xanthorrizol pada rimpang temulawak tokcer sebagai antimikroba dan antibakteri. Ekstrak temulawak membuat bakteri Streptococcus, Antinomyces viscosus, dan Porphyromonas gingivalis di gigi mati. Xanthorrizol memicu denaturasi protein sel bakteri yang ujung-ujungnya memaksa protein itu keluar sel. Berikutnya sel akan mengkerut dan mati. Karena keampuhan itu temulawak kini dilirik industry pasta gigi di Korea Selatan.

Antioksidan

Sebagai obat jerawat rimpang anggota family Zingiberacceae itu juga tokcer. Penelitian Irmanida Batubara Msi dan kolega : Tohru Mitsunaga serta Hideo Ohsashi dari Gifu University di Jepang, menunjukkan jerawat akibat bakteri Propionibacterium acnes bisa sembuh dengan temulawak. Ekstrak rimpang memakai matanol dan 50% etanol cukup menghambat daya serang bakteri itu melalui mekanisme penghambatan aktivitas lipase-semacam enzim katalisator.

Uji lain menunjukkan kerabat kunyit itu bisa menekan serangan malaria. Lihat data WHO yang menyebutkan 41% penduduk dunia beresiko terinfeksi malaria. Parahnya lagi pengobatan yang sudah berjalan dengan obat antimalaria berbahan aktif klorokin membuat resistensi pada Plasmodium falciparum-penyebab malaria tertiana.

Riset-riset ilmiah yang dilakukan berbagai pihak memang langkah maju untuk menyibak semua potensi temulawak. Titik akhir dari semua itu adalah terjaminnya keamanan dam keselamatan konsumen sehingga temulawak dapat mendunia. (Dian Adijaya S/Peliput : Tri Susanti).

Sumber : majalah TRUBUS 465