Rabu, 14 Oktober 2009

Prinsip Pengobatan

Pemberian obat pada ayam yang terserang penyakit adakalanya memberikan hasil yang kurang memuaskan. Meskipun kita telah merasa yakin bahwa jenis obat yang kita berikan sesuai dengan penyakit yang menyerang. Tidak menutup kemungkinan juga, kita berasumsi bahwa kualitas obat yang diberikan tidak baik.

Penarikan kesimpulan mengenai kegagalan pengobatan hendaknya telah melewati serangkaian evaluasi dan analisis mengenai teknik maupun aplikasi pengobatan yang telah dilakukan. Mengingat, cara pemberian obat ini mempunyai andil yang besar terhadap efektivitas pengobatan. Obat dengan kualitas yang bagus tidak akan bisa bekerja secara optimal jika ada kesalahan pada teknik aplikasinya. Akibatnya sasarannya tidak tepat atau cara kerja obat tidak optimal sehingga penyakit tidak bisa diatasi. Ada hal yang perlu kita ketahui, cara pemberian obat sangat berpengaruh pada stabilitas obat, kadar obat yang diserap tubuh, kecepatan menghasilkan efek dan lama pengobatan yang notabene menjadi faktor penting yang diperlukan oleh obat untuk melepaskan khasiatnya.

Keberhasilan pengobatan dipengaruhi oleh banyak faktor. Oleh karenanya pengobatan lebih cocok disebut sebagai seni daripada teknik pengobatan.

Prinsip Pengobatan

Prinsip pengobatan menjadi parameter yang harus diketahui dan dipahami saat kita melakukan pengobatan. Penerapan salah satu prinsip pengobatan ini yang kurang sesuai akan berpengaruh pada tingkat keberhasilan pengobatan, tidak menutup kemungkinan akan mengakibatkan kegagalan pengobatan. Jenis obat yang sesuai dengan penyakit, obat mampu mencapai lokasi kerja atau organ sakit, obat tersedia dalam kadar yang cukup dan obat berada dalam waktu yang cukup menjadi 4 prinsip pengobatan.

  • Obat sesuai dengan jenis penyakit yang menyerang

Setiap obat mempunyai efek yang berbeda dan spesifik terhadap setiap penyakit. Pemilihan obat yang tepat menjadi tahapan pertama yang menentukan keberhasilan pengobatan. Bagaimanapun baiknya cara pemberian obat, tetapi bila kita salah dalam memilih jenis obat, maka bukan suatu keniscayaan efek pengobatan tidak akan optimal.

idak semua obat dapat digunakan untuk mengatasi serangan CRD. Contohnya pemberian ampisilin atau amoksilin tidak dapat mengatasi serangan CRD. Hal ini disebabkan bakteri CRD, Mycoplasma gallisepticum tidak mempunyai dinding sel yang berperan sebagai reseptor ampisilin. Sebaliknya, obat yang cocok untuk mengobati penyakit CRD ialah doksisiklin yang memiliki kemampuan menghambat sintesis protein pada reseptor yang terdapat pada M. gallisepticum (ribosom 30S).

  • Obat mampu mencapai lokasi kerja atau organ sakit

Obat yang diberikan harus mampu mencapai target organ, lokasi kerja atau organ sakit sehingga obat bisa berkerja secara tepat dan optimal. Pemilihan rute pengobatan menjadi hal yang penting untuk memastikan obat dapat mencapai organ atau lokasi kerja yang diinginkan. Untuk mengobati penyakit infeksi pernapasan yang parah dengan efek pengobatan yang segera maka rute parenteral, secara suntikan atau injeksi menjadi pilihan utama. Namun bila tidak tersedia sediaan parenteral maka sediaan oral melalui cekok atau air minum dengan kandungan obat yang memiliki efek sistemik dapat menjadi alternatif pilihan, seperti obat dari golongan fluoroquinolon atau penisilin.

  • Obat tersedia dalam kadar yang cukup

Obat akan menghasilkan efek pengobatan yang optimal saat konsentrasi atau kadarnya di dalam tubuh ayam mencapai kadar minimum atau Minimum Inhibitory Concentration (MIC). Sebelum obat mencapai kadar MIC, obat tidak akan bekerja menghasilkan efek pengobatan.

Kadar obat di dalam tubuh dipengaruhi oleh kondisi alamiah tubuh ayam sendiri, dimana ayam mempunyai respon yang berbeda terhadap obat yang dimasukkan ke dalam tubuhnya. “Nasib” obat di dalam tubuh ayam dapat diketahui melalui uji farmakokinetik. Hasil uji farmakokinetik tersebut digunakan oleh apoteker dan dokter hewan sebagai dasar penentuan dosis sehingga obat dapat mencapai organ target dalam jumlah yang cukup melalui rute pengobatan tertentu.

  • Obat berada dalam waktu yang cukup

Secara alami, kadar obat di dalam tubuh akan berkurang dalam jangka waktu tertentu. Ada parameter penting yang berhubungan dengan kecepatan eliminasi obat, yaitu waktu paruh.

Waktu paruh yang diberi simbol T1/2 merupakan waktu yang diperlukan tubuh untuk mengeliminasi obat sebanyak 50% dari kadar semula. Obat dengan T1/2 pendek akan berada di dalam tubuh lebih singkat dibanding dengan yang mempunyai T1/2 panjang. Pada aplikasinya, obat dengan T1/2 pendek perlu diberikan dengan interval waktu lebih pendek, misalnya diberikan 2-3 kali sehari untuk mempertahankan kadar efektif di dalam darah. Sulfadimethoxine dan sulfamonomethoxine merupakan antibiotik dengan T1/2 yang panjang sedangkan antibiotik lainnya seperti tetrasiklin, penisilin memiliki T1/2 yang pendek.

Rute Pemberian Obat

Obat dapat diberikan pada ayam melalui 3 rute, yaitu oral (melalui saluran pencernaan), parenteral/suntikan atau secara topikal (dioles). Pemilihan rute pemberian obat ini disesuaikan dengan jenis obat yang digunakan, jenis penyakit yang diobati, jumlah ayam, tingkat keparahan penyakit dan lama waktu obat tersebut diberikan.

  • Oral

Rute pemberian obat secara oral dilakukan melalui mulut (saluran pencernaan) baik secara cekok, campur ransum atau air minum. Contoh sediaan obat yang diberikan secara oral ialah serbuk larut air atau campur ransum, kaplet atau kapsul. Obat yang diberikan secara oral akan bekerja dengan cara langsung membunuh agen penyakit di saluran pencernaan atau diserap melalui usus untuk kemudian didistribusikan ke organ tubuh yang terinfeksi.

1. Air minum

Berdasarkan pengamatan kami, pada peternakan unggas 95% obat diberikan melalui oral, via air minum dan selebihnya, yaitu 5% obat diberikan secara parenteral atau suntikan (Technical Service Medion, 2006). Hal ini karena aplikasi obat via air minum relatif mudah, cepat dan bisa diberikan secara masal (jumlah banyak).

Agar pencampuran obat melalui air minum mampu memberikan efek pengobatan yang optimal perlu sekiranya kita memperhatikan beberapa hal berikut :

  1. Air sadah dan adanya kandungan logam berat seperti besi, dapat mengurangi efektivitas antibiotik golongan fluorokinolon dan tetrasiklin
  2. Derajat keasaman (pH) terlalu ekstrem (pH <> 8). Obat sulfa akan mengendap bila dilarutkan ke dalam air dengan pH terlalu rendah (pH <>
  3. Sinar matahari langsung dapat mengurangi stabilitas obat di dalam larutan. Oleh karena itu larutan obat hendaknya dibuat segar dan diletakkan pada tempat yang tidak terkena sinar matahari langsung
  4. Konsumsi air minum setiap ayam berbeda-beda sehingga jumlah obat yang masuk ke dalam tubuh setiap ayam tidak sama. Hal ini dapat diminimalisasi dengan penyediaan tempat air minum yang sesuai dengan jumlah ayam

Sebuah percobaan telah kami lakukan untuk melihat efek konsumsi air minum yang berfluktuasi. Trial dilakukan pada ayam petelur umur 22 minggu yang diberi obat enrofloksasin 50 mg/l (10 mg/kg berat badan) selama 5 hari berturut-turut. Akibat konsumsi air minum yang berfluktuasi antara 190 - 255 ml/hari maka dosis obat yang masuk ke dalam tubuh ayam berkisar 9-13 mg/kg berat badan. Oleh karena itu, sudah selayaknya kita selalu mengevaluasi water intake selama proses pengobatan. Pastikan air minum yang dicampur obat habis dikonsumsi ayam, jika tidak maka pada hari berikutnya kurangi jumlah air minum yang digunakan untuk melarutkan obat (note : tanpa mengurangi jumlah obat yang harus dilarutkan).

Praktek pemberian obat melalui air minum seringkali berbeda-beda antar peternak. Idealnya obat diberikan selama 24 jam atau minimal 12 jam dengan maksimal obat dikonsumsi habis selama 4-6 jam setelah obat dilarutkan. Contoh pola pemberian obat yang ideal yaitu 2 kali sehari, pelarutan obat ke-1 untuk dikonsumsi pagi-siang hari (misalnya pukul 07:00-12:00) dan pelarutan obat ke-2 untuk dikonsumsi siang-malam hari (misalnya 12:00-17:00) sedangkan pada malam-pagi diberi air minum biasa.

2. Ransum

Pemberian obat melalui ransum relatif jarang dilakukan. Biasanya obat yang diberikan melalui ransum merupakan obat yang tidak larut dalam air minum, contohnya ialah Levamid yang diberikan melalui ransum.

3. Cekok

Aplikasi cekok merupakan teknik pengobatan secara individual.

Jenis sediaan obat yang diberikan secara cekok antara lain bentuk kapsul atau kaplet dan larutan. Teknik aplikasi ini kurang sesuai jika diterapkan pada populasi yang banyak, lebih cocok diaplikasikan pada kasus penyakit yang individual. Meskipun kelebihan teknik aplikasi ini ialah dosis obat lebih terjamin.

  • Parenteral

Pada unggas (ayam), teknik pemberian obat ini seringkali dilakukan secara suntikan subkutan di bawah kulit (leher bagian bawah) atau suntikan intramuskuler (tembus daging atau otot) pada paha atau dada. Selain kedua teknik tersebut, pemberian obat injeksi juga bisa diaplikasikan dengan cara suntikan intravena atau langsung pada pembuluh darah. Namun, teknik aplikasi ini relatif jarang bahkan tidak pernah diterapkan pada unggas (ayam).

karena tidak melalui proses absorpsi di saluran pencernaan yang relatif lama. Keuntungan lainnya ialah dosis lebih terjamin, tepat dan efeknya cepat. Namun, aplikasi teknik ini menyebabkan tingkat stres ayam relatif tinggi dan membutuhkan waktu lebih lama dalam pengobatan. Selain itu, alat suntik yang digunakan haruslah steril dan jarum suntik hendaknya diganti setiap penyuntikan 300-500 ekor agar tetap tajam.

  • Topikal

Topikal atau pemberian obat secara lokal adalah pengobatan obat yang diaplikasikan dengan cara dioleskan atau cara lain secara langsung pada kulit, mata, hidung atau bagian tubuh eksternal lainnya. Contoh obat topikal adalah serbuk antibiotik atau salep yang digunakan untuk mencegah infeksi pada luka serta sediaan cair yang digunakan pada mata. Cil dan Anti Pick merupakan produk Medion yang diaplikasikan secara oles.

Suatu jenis obat ada yang dapat diberikan melalui berbagai

teknik pemberian obat, namun ada juga yang hanya kh

usus diberikan melalui satu macam cara saja. Contohnya vitamin dapat diberikan melalui air minum, ransum dan injeksi intramuskuler, namun gentamisin (antibiotik) hanya dapat diberikan melalui injeksi baik intramuskuler maupun subkutan karena tidak dapat diserap di saluran pencernaan. Untuk memastikan cara pemberian peternak dapat memeriksa jenis sediaan dan aturan pakai yang tercantum pada etiket atau leaflet.


Perlu Dihindari

Pemberian obat, terutama melalui air minum hendaknya tidak dicampur dengan desinfektan. Hal ini disebabkan pencampuran tersebut akan menurunkan bahkan merusakan obat. Contohnya ialah iodin (Antisep, Neo Antisep) atau klorin akan mengoksidasi antibiotik atau vitamin, sedangkan quats (Medisep, Mediklin) bisa mengendapkan obat dengan kandungan sulfonamida.

Kualitas air yang tidak sesuai standar jika digunakan untuk melarutkan obat akan mengakibatkan penurunan potensi obat. Oleh karena itu, pastikan kualitas air melalui pengujian laboratorium sebelum digunakan untuk melarutkan obat. Medion menyediakan fasilitas untuk pengujian air minum dengan parameter uji fisik, kimia maupun biologi.

Pencampuran atau kombinasi obat sebaiknya juga dihindarkan, terlebih lagi pencampuran antibiotik yang tidak tepat akan mengakibatkan rusaknya obat tersebut. Alangkah lebih baiknya jika kita menggunakan produk obat jadi yang dihasilkan dari perusahaan obat hewan. Sebagai contohnya Amoxitin dengan kandungan penisilin tidak boleh dicampur dengan Tyfural yang mengandung antibiotik golongan makrolida. Hal ini disebabkan kedua golongan antibiotik tersebut memiliki sifat yang berbeda. Penisilin bersifat bakterisidal (menghambat) dan makrolida bersifat bakterisid (membunuh). Kombinasi kedua golongan antibiotik ini akan mengakibatkan penurunan potensi obat, kecuali jika target kerja antibiotik tersebut berbeda.

Pendukung Keberhasilan Pengobatan

Setelah kita memperhatikan dan menerapkan ke-4 prinsip pengobatan tersebut, agar efek pengobatan menjadi lebih optimal perlu didukung dengan pelaksanaan manajemen pemeliharan secara baik dan penerapan biosecurity secara ketat. Pemberian multivitamin maupun elektrolit setelah aplikasi obat juga dapat membantu mempercepat kesembuhan ayam.Saat efek pengobatan mengalami kegagalan atau tidak optimal maka kita bisa mengevaluasi beberapa hal berikut :

  • Ketepatan diagnosa penyakit

  • Jenis obat yang dipilih hendaknya sesuai dengan penyakit yang menyerang

  • Tepatnya dosis obat yang diberikan

  • Rute pemberian obat haruslah sesuai dengan jenis obat maupun lokasi kerja (organ target)

  • Hindari kombinasi obat yang bersifat antagonis

  • Kompleksitas penyakit

  • Tingkat keparahan penyakit

  • Resistensi antibiotik dan perlunya dilakukan rolling pemakaian antibiotik

  • Penerapan manajemen pemeliharaan dan program biosecurity yang kurang tepat

Obat yang diberikan pada ayam hendaknya tidak monoton atau satu jenis obat diberikan terus-menerus untuk mengatasi suatu penyakit karena dapat memicu terjadinya resistensi. Oleh karena itu, lakukan rolling pemberian obat, misalnya setiap 3-4 periode pemeliharaan. Selain itu, dosis dan aturan pakai yang tidak sesuai (dosis kurang) dengan yang tercantum dalam leaflet atau etiket produk juga dapat mengakibatkan terjadinya resistensi.

Bila peternak telah menerapkan cara pemberian obat sesuai dengan praktek yang benar, tapi ayam tidak kunjung sembuh sebaiknya berkonsultasi lebih lanjut dengan dokter hewan atau tenaga lapangan untuk memastikan penyebab ketidakberhasilan pengobatan. Mengingat banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan pengobatan. Pengobatan akan lebih efektif dan efisien jika ditunjang dengan diagnosa yang tepat, tata laksana kandang yang baik dan penerapan biosecurity yang ketat.










Mengenal tanda-tanda dalam kemasan obat

Obat adalah penyelamat hidup manusia. Meski begitu, tanpa penggunaan yang benar obat bisa mencabut nyawa, seperti yang terjadi pada megabintang Michael Jackson. Itu sebabnya Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) membuat aturan dan klasifikasi obat.

Mari kita kenali obat lebih jauh agar mampu menggunakannya sesuai aturan.

1. Obat bebas
Obat bebas adalah obat yang boleh digunakan tanpa resep dokter. Di negara-negara Barat, obat ini disebut OTC atau over the counter. Ini adalah obat yang paling aman dan bisa dibeli bebas di warung, toko obat, maupun apotek.

Meskipun disebut aman, obat bebas tetap tidak boleh dipergunakan sembarangan. Bagaimanapun, kata Dr.Handrawan Nadesul, obat bebas juga punya kandungan "racun" yang bisa berbahaya buat tubuh bila tidak dipergunakan sebagaimana mestinya.

Kemasan obat ini ditandai dengan lingkaran hijau bergaris tepi hitam. Obat bebas ini digunakan untuk mengatasi gejala penyakit ringan, biasanya berupa vitamin atau multivitamin.

2. Obat bebas terbatas

Obat jenis ini masih bisa dibeli tanpa resep dokter. Pada kemasan obat ini terdapat lingkaran biru bergaris tepi hitam. Contohnya, obat antiflu atau obat antimabuk. Pada kemasannya terdapat peringatan bertanda kotak kecil berdasar gelap atau kotak putih bergaris tepi hitam, misalnya:

P.No.1: Awas! Obat keras. Baca aturan pemakaiannya
P.No.2: Awas! Obat keras. Hanya untuk bagian luar dari badan.
P.No.3: Awas! Obat keras. Tidak boleh ditelan.
P.No.4: Awas! Obat keras. Hanya untuk dibakar.
P.No.5: Awas! Obat keras. Obat wasir, jangan ditelan.

Pemakaian obat ini juga harus dihentikan bila kondisi penyakit semakin serius. Sebaiknya pergi ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Sangat tidak dianjurkan untuk melakukan pengobatan sendiri dengan obat-obatan yang seharusnya diperoleh lewat resep dokter. Meski gejala dan keluhan penyakit sama, obat yang digunakan belum tentu sama.

Perhatikan tanggal kadaluwarsa obat, baca informasi pada kemasan tentang petunjuk penggunaan obat yang tidak, petunjuk penggunaan obat yang tidak diperbolehkan, efek samping, dosis obat, cara menyimpan obat, dan interaksi obat dengan obat lain atau interaksi obat dengan makanan yang dikonsumsi.

3. Obat keras
Obat ini harus diperoleh lewat resep dokter. Ciri khasnya adalah terdapat tanda lingkaran merah bergaris tepi hitam dengan huruf K di dalamnya.

Obat yang termasuk dalam golongan ini misalnya antibiotik, seperti tetrasiklin, penisilin, obat-obatan yang mengandung hormon, obat penenang, dan lain-lain. Obat jenis ini tidak bisa sembarang dikonsumsi karena bisa berbahaya, meracuni tubuh, memperparah penyakit, atau menyebabkan kematian.

Sekilas tentang kolesterol

Kolesterol atau kadar lemak dalam darah umumnya berasal dari menu makanan yang dikonsumsi. Semakin banyak konsumsi makanan berlemak, maka akan semakin besar peluangnya untuk menaikkan kadar kolesterol. Contoh makanan tersebut seperti gorengan, minyak kelapa atau kelapa sawit, alpukat, durian, daging berlemak, jeroan, kacang tanah, dan sejenisnya.

Jenis kolesterol dibedakan menjadi Low Density Lipoprotein (LDL) dan High Density Lipoprotein (HDL). LDL sering disebut sebagai kolesterol jahat karena tingginya kadar LDL akan berpotensi menumpuk atau menempel pada dinding pembuluh nadi koroner yang dapat menyebabkan penyempitan dan penyumbatan aliran darah (aterosclerosis). Akibatnya jantung kesulitan untuk memompa darah dan akhirnya berlanjut ke gejala serangan jantung mendadak. Bila penyumbatan itu terjadi di otak, maka akan menyebabkan stroke dan kelumpuhan.

Penderita kolesterol umunya diderita oleh orang gemuk, namun tidak menutupi kemungkinan orang yang kurus juga bisa terserang kolesterol tinggi, apalagi dengan mengonsumsi makanan modern yang rendah serat namun lemaknya tinggi. Selain faktor makanan, kolesterol yang tinggi juga bisa disebabkan oleh faktor keturunan. Oleh sebab itu, semua orang baik kurus apalagi gemuk, baik yang belum pernah menderita kolesterol apalagi yang sudah pernah mengalaminya, perlu menjaga makanan dengan mengurangi makanan gorengan atau berminyak dan memperbanyak konsumsi makanan berserat.

Kolesterol total sebenarnya merupakan susunan dari banyak zat, termasuk trigliserida, LDL kolesterol, dan HDL kolesterol. Trigliserida adalah salah satu bentuk lemak yang diserap oleh usus setelah mengalami hidrolisis. Trigliserida kemudian masuk ke dalam plasma dalam dua bentuk, yaitu sebagai klomikron yang berasal dari penyerapan usus setelah makan lemak dan sebagai VLDL (Very Low Density Lipoprotein) yang dibentuk oleh hepar dengan bantuan insulin. Trigliserida tersebut di dalam jaringan di luar hepar (pembuluh darah, otot, jaringan lemak) akan dihidrolisis oleh enzim lipoprotein lipase. Sisa hidrolisis kemudian oleh hepar dimetabolisasikan menjadi LDL. Kolesterol yang terdapat pada LDL kemudian ditangkap oleh suatu reseptor khusus di jaringan perifer sehingga LDL sering disebut sebagai kolesterol jahat. Kelebihan kolesterol dalam jaringan perifer akan diangkut oleh HDL (High Density Lipoprotein) ke hepar untuk kemudian dikeluarkan melalui saluran empedu sebagai lemak empedu sehingga HDL sering disebut sebagai kolesterol baik.

Trigliserida merupakan lemak darah yang cenderung naik seiring dengan konsumsi alkohol, peningkatan berat badan, diet tinggi gula atau lemak serta gaya hidup. Peningkatan trigliserida akan menambah risiko terjadinya penyakit jantung dan stroke. Mereka yang mempunyai trigliserida tinggi juga cenderung mengalami gangguan dalam tekanan darah dan risiko diabetes.

LDL kolesterol atau kolesterol lipoprotein berkepadatan rendah adalah kolesterol jahat karena kolesterol LDL melekat pada dinding arteri dan bisa menyebabkan terjadinya penutupan arteri. Sedangkan HDL kolesterol atau kolesterol lipoprotein berkepadatan rendah dikenal sebagai kolesterol baik. Peran kolesterol HDL adalah membawa kembali kolesterol buruk ke organ hati untuk pemrosesan lebih lanjut. Sebagian dari mereka dengan kadar HDL yang tinggi akan terlindung dari penyakit jantung, namun orang dengan kadar HDL dalam kategori yang sangat baik masih berisiko untuk terkena penyakit jantung.

Penyebab hiperkolesterolemia antara lain yaitu obesitas, alkoholisme, gangguan ginjal, gangguan hati, diabetes, pil anti hamil, diuretik, kortikosteroid, dan penyakit tiroid. Penderita hiperkolesterolemia sebaiknya menghindari faktor risiko (seperti merokok, obesitas, dan hipertensi), berat badan harus ideal dengan cara mengatur jumlah asupan kalori dan olah raga, serta mengurangi konsumsi lemak jenuh

Kolesterol LDL (Low Density Lipoprotein)
Jenis kolesterol ini berbahaya sehingga sering disebut juga sebagai kolesterol jahat. Kolesterol LDL mengangkut kolesterol paling banyak didalam darah. Tingginya kadar LDL menyebabkankan pengendapan kolesterol dalam arteri. Kolesterol LDL merupakan faktor risiko utama penyakit jantung koroner sekaligus target utama dalam pengobatan.

Kolesterol HDL (High Density Lipoprotein).
Kolesterol ini tidak berbahaya. Kolesterol HDL mengangkut kolesterol lebih sedikit dari LDL dan sering disebut kolesterol baik karena dapat membuang kelebihan kolesterol jahat di pembuluh darah arteri kembali ke hati, untuk diproses dan dibuang. HDL mencegah kolesterol mengendap di arteri dan melindungi pembuluh darah dari proses Aterosklerosis (terbentuknya plak pada dinding pembuluh darah).

Trigliserida
Selain LDL dan HDL, yang penting untuk diketahui juga adalah Trigliserida, yaitu satu jenis lemak yang terdapat dalam darah dan berbagai organ dalam tubuh. Meningkatnya kadar trigliserida dalam darah juga dapat meningkatkan kadar kolesterol. Sejumlah faktor dapat mempengaruhi kadar trigliserida dalam darah seperti kegemukan, konsumsi alkohol, gula, dan makanan berlemak.

Tingginya kadar trigliserida (TG) dapat dikontrol dengan diet rendah karbohidrat.

Senin, 12 Oktober 2009

Haemonchus Sp

Penyebab : Haemonchus contortus
Lokasi : Abomasum
Hospes : Sapi, domba, kambing, ruminansia lainnya.

Morfologi
H. contortus dikenal sebagai cacing merah di lambung pada ruminansia. Dewasa memiliki panjang 10 hingga 30 mm. Jantan lebih pendek daripada betinanya dan memiliki warna merah segar dengan dilengkapi suatu bursa yang asimetris. Pada betina dikenal sebagai “barbers pole worms” karena uterusnya yang putih diselingi usus yangberwarna kemerahan karena berisi darah.

Siklus hidup
Siklus hidupnya langsung dan spesifik pada golongan strongly. Periode prepaten 19-21 hari, namun dapat lebih pendek akibat adanya infeksi Trypanosoma atau akibat stress.

Gejala klinis
Anemia, oedem, bottle jaw, bulu kasar, kehilangan berat badan atau pertumbuhan terhambat.

Patogenesis
H. contortus merupakan cacing yang paling pathogen diantara nematoda lainnya pada ruminansia. Infeksi berat terjadi pada hewan muda akibat anemia, hipoproteinemia, emasiasi.Pengaruh ini muncul pada musim penghujan, sementara pada musim kemarau jika infeksinya berat dapat berakibat kematian ternak.

Diagnosa
Dapat dilakukan dengan mendeteksi adanya telur cacing dalam pemeriksaan feses. Pada kejadian akut, anemia dan kematian sering terjadi sebelum cacing menjadi dewasa. Pada pemeriksaan post mortum di abomasums dapat ditemukan cacing.

Pencegahan
Perhatian terutama ditujukan pada manajemen padangan. Perlu dilakukan rotasi pada hewan yang digembalakan. Sapi yang menyusui diusahakan dalam kondisi bersih. Perlu diberikan obat cacing secara periodik.

Jumat, 09 Oktober 2009

Bahan Kuliah Pengantar Ilmu Peternakan

Topik : Ruminansia kecil

Penyakit antrax





Nama lain dari penyakit Anthrax adalah : radang limpa.

Anthrax merupakan penyakit menular yang akut/ perakut, dapat
menyerang semua jenis ternak berdarah panas bahkan manusia. Penyakit ini
dapat menyebabkan angka kematian tinggi.

1. Penyebab
Penyebab penyakit ini adalah Bacillus anthracis. Kuman Anthrax
dapat membentuk spora yang tahan hidup berpuluh-puluh tahun di tanah,
tahan terhadap kondisi lingkungan yang panas, dan bahan kimia atau
desinfektan. Oleh sebab itu, hewan yang mati karena menderita Anthrax
dilarang melakukan pembedahan pada bangkainya agar tidak membuka
peluang bagi organisme untuk membentuk spora. Penyakit ini tersebar di
seluruh dunia terutama daerah tropis.

2. Penularan
Infeksi pada hewan dapat berasal dari tanah yang tercemar
organisme/ kuman Anthrax. Kuman masuk tubuh hewan melalui luka,
terhirup bersama udara atau tertelan. Pada manusia infeksi biasanya
terjadi dengan perantaraan luka, dapat pula melalui pernafasan para
pekerja penyeleksi bulu domba atau melalui saluran pencernaan bagi orang
yang memakan daging hewan penderita Anthrax yang dimasak tidak
sempurna.

Beberapa Penyakit Ternak Ruminansia Beberapa Penyakit Ternak Runimansia
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian NTB, 2001 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian NTB, 2001
3. Tanda tanda penyakit
Tanda tanda penderita Anthrax adalah sebagai berikut:
a. Kematian mendadak dan adanya perdarahan di lubang-lubang kumlah
(lubang hidung, lubang anus, pori pori kulit).
b. Hewan mengalami kesulitan bernapas, demam tinggi, gemetar,
berjalan sempoyongan, kondisi lemah, ambruk dan kematian secara
cepat.
c. Pada babi dan kuda gejalanya biasanya kronis dan menyebabkan
kebengkakan pada tenggorokan.
d. Pada manusia dapat terjadi tukak/ luka pada kulit dan kematian
mendadak.

4. Pencegahan
a. Vaksinasi yang teratur tiap tahun di daerah wabah.
b. Pengawasan yang ketat terhadap lalulintas/ keluar masuknya ternak.
c. Mengasingkan ternak yang sakit/ diduga sakit.
d. Bangkai ternak yang sakit/ diduga sakit tidak boleh dibuka, tetapi
harus dibakar atau dikubur dalam-dalam.

5. Pengobatan
a. Pemberian antibiotika berspektrum luas.
♦ Procain penisilin G, dosis untuk ruminansia besar (sapi,
kerbau): 6.000 – 20.000 IU/Kg berat badan , sedang untuk
ruminansia kecil (kambing, domba) : 20.000 – 40.000 IU/Kg
berat badan.
♦ Streptomycin, dosis untuk ruminansia besar: 5 – 10 mg/Kg BB,
sedang untuk ruminansia kecil : 50 – 100 mg/Kg BB.
♦ Kombinasi antara Procain Penisilin G dengan Streptomycin.
♦ Oksitetrasiklin , untuk ruminansia besar: 50 mg/10 Kg BB,
sedang untuk ruminansia kecil: 50 mg/5 Kg BB.
b. Pemberian antiserum yang tinggi titernya ( 100 – 150 ml )

6. Hubungan Kesehatan Masyarakat
Anthrax merupakan penyakit zoonosis (suatu penyakit yang dapat
ditularkan antara hewan dan manusia) yang sangat berbahaya, oleh karena
itu hewan yang menderita Anthrax dilarang keras untuk dipotong.