Senin, 12 Oktober 2009

Haemonchus Sp

Penyebab : Haemonchus contortus
Lokasi : Abomasum
Hospes : Sapi, domba, kambing, ruminansia lainnya.

Morfologi
H. contortus dikenal sebagai cacing merah di lambung pada ruminansia. Dewasa memiliki panjang 10 hingga 30 mm. Jantan lebih pendek daripada betinanya dan memiliki warna merah segar dengan dilengkapi suatu bursa yang asimetris. Pada betina dikenal sebagai “barbers pole worms” karena uterusnya yang putih diselingi usus yangberwarna kemerahan karena berisi darah.

Siklus hidup
Siklus hidupnya langsung dan spesifik pada golongan strongly. Periode prepaten 19-21 hari, namun dapat lebih pendek akibat adanya infeksi Trypanosoma atau akibat stress.

Gejala klinis
Anemia, oedem, bottle jaw, bulu kasar, kehilangan berat badan atau pertumbuhan terhambat.

Patogenesis
H. contortus merupakan cacing yang paling pathogen diantara nematoda lainnya pada ruminansia. Infeksi berat terjadi pada hewan muda akibat anemia, hipoproteinemia, emasiasi.Pengaruh ini muncul pada musim penghujan, sementara pada musim kemarau jika infeksinya berat dapat berakibat kematian ternak.

Diagnosa
Dapat dilakukan dengan mendeteksi adanya telur cacing dalam pemeriksaan feses. Pada kejadian akut, anemia dan kematian sering terjadi sebelum cacing menjadi dewasa. Pada pemeriksaan post mortum di abomasums dapat ditemukan cacing.

Pencegahan
Perhatian terutama ditujukan pada manajemen padangan. Perlu dilakukan rotasi pada hewan yang digembalakan. Sapi yang menyusui diusahakan dalam kondisi bersih. Perlu diberikan obat cacing secara periodik.

Jumat, 09 Oktober 2009

Bahan Kuliah Pengantar Ilmu Peternakan

Topik : Ruminansia kecil

Penyakit antrax





Nama lain dari penyakit Anthrax adalah : radang limpa.

Anthrax merupakan penyakit menular yang akut/ perakut, dapat
menyerang semua jenis ternak berdarah panas bahkan manusia. Penyakit ini
dapat menyebabkan angka kematian tinggi.

1. Penyebab
Penyebab penyakit ini adalah Bacillus anthracis. Kuman Anthrax
dapat membentuk spora yang tahan hidup berpuluh-puluh tahun di tanah,
tahan terhadap kondisi lingkungan yang panas, dan bahan kimia atau
desinfektan. Oleh sebab itu, hewan yang mati karena menderita Anthrax
dilarang melakukan pembedahan pada bangkainya agar tidak membuka
peluang bagi organisme untuk membentuk spora. Penyakit ini tersebar di
seluruh dunia terutama daerah tropis.

2. Penularan
Infeksi pada hewan dapat berasal dari tanah yang tercemar
organisme/ kuman Anthrax. Kuman masuk tubuh hewan melalui luka,
terhirup bersama udara atau tertelan. Pada manusia infeksi biasanya
terjadi dengan perantaraan luka, dapat pula melalui pernafasan para
pekerja penyeleksi bulu domba atau melalui saluran pencernaan bagi orang
yang memakan daging hewan penderita Anthrax yang dimasak tidak
sempurna.

Beberapa Penyakit Ternak Ruminansia Beberapa Penyakit Ternak Runimansia
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian NTB, 2001 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian NTB, 2001
3. Tanda tanda penyakit
Tanda tanda penderita Anthrax adalah sebagai berikut:
a. Kematian mendadak dan adanya perdarahan di lubang-lubang kumlah
(lubang hidung, lubang anus, pori pori kulit).
b. Hewan mengalami kesulitan bernapas, demam tinggi, gemetar,
berjalan sempoyongan, kondisi lemah, ambruk dan kematian secara
cepat.
c. Pada babi dan kuda gejalanya biasanya kronis dan menyebabkan
kebengkakan pada tenggorokan.
d. Pada manusia dapat terjadi tukak/ luka pada kulit dan kematian
mendadak.

4. Pencegahan
a. Vaksinasi yang teratur tiap tahun di daerah wabah.
b. Pengawasan yang ketat terhadap lalulintas/ keluar masuknya ternak.
c. Mengasingkan ternak yang sakit/ diduga sakit.
d. Bangkai ternak yang sakit/ diduga sakit tidak boleh dibuka, tetapi
harus dibakar atau dikubur dalam-dalam.

5. Pengobatan
a. Pemberian antibiotika berspektrum luas.
♦ Procain penisilin G, dosis untuk ruminansia besar (sapi,
kerbau): 6.000 – 20.000 IU/Kg berat badan , sedang untuk
ruminansia kecil (kambing, domba) : 20.000 – 40.000 IU/Kg
berat badan.
♦ Streptomycin, dosis untuk ruminansia besar: 5 – 10 mg/Kg BB,
sedang untuk ruminansia kecil : 50 – 100 mg/Kg BB.
♦ Kombinasi antara Procain Penisilin G dengan Streptomycin.
♦ Oksitetrasiklin , untuk ruminansia besar: 50 mg/10 Kg BB,
sedang untuk ruminansia kecil: 50 mg/5 Kg BB.
b. Pemberian antiserum yang tinggi titernya ( 100 – 150 ml )

6. Hubungan Kesehatan Masyarakat
Anthrax merupakan penyakit zoonosis (suatu penyakit yang dapat
ditularkan antara hewan dan manusia) yang sangat berbahaya, oleh karena
itu hewan yang menderita Anthrax dilarang keras untuk dipotong.

Jumat, 11 September 2009

Teknologi Penggemukan Sapi Potong

Penggemukan sapi potong adalah pemeliharaan sapi potong dengan cara mengandangkan
secara terus menerus selama waktu tertentu dengan tujuan meningkatkan bobot badan
dan diperoleh dagingyang baik sebelum di potong. Ada 3 hal penting yang harus
diperhatikan dalam usaha peternakan termasuk dalam penggemukan yaitu :bibit ( bakalan
), pakan dan manajemen.pemelihan .Ketiga factor tersebut saling berkaitan dan harus
semua di perhatikan.
Bibit atau bakalan
Bibit merupakan bagian awal dari usaha penggemukan , oleh karena itu penting
untuk diperhatikan pemilihan bibit. Beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam
pemilihan sapi bakalan atau bibit.:
a. Pilih sapi bakalan yang kurus tetapi sehat,dan tidak cacat.
b. Pemilihan bangsa sesuaikan dengan permintaan pasar. Pada saat menjelang
hari Raya Qurban , pilih sapi PO atau Peranakan Brahma atau sering disebut
sapi putih. Sedang untuk penggemukan di luar hari Raya Qurban bisa
mmenguunakan bangsa sapi keturunan impor seperti sapi keturunan Simental
( metal ), Limousin ( merah ), sapi perah jantan / FH ( putih –hitam ).Sapi
keturunan pertambahan bobot badan lebih baik dibanding sapi PO.
c. Pilih sapi jantan, karena sapi jantan pertambahan bobot badan jauh lebih
tinggi dibanding sapi betina. Disamping itu pemoyongan sapi betina dilarang
oleh Undang-Undang Peternakan.
d. Bobot badan awal sapi bakalan untuk sapi putih sebessar 250 kg dan sapi
keturunan minimal 300 kg.
Pakan .
Pakan sangat penting untuk diperhatikan , karena pakan sangat besar pengaruhnya
terhadap pertambahan bobot badan sapi. Pakan diperlukan untuk hidup pokok,
pertumbuhan , reproduksi, dan produksi daging. Zat gizi utama yang dibutuhkan sapi
potong adalah protein dan energi ( Tillman et al, 1998 ).
Pengertian tentang pakan:
Pakan hijauan, merupakan bahan pakan sumber serat yang mengandung serat kasar lebih
dari 20 % , dan memepunyai enegi serta kecernaan yang rendah Sebagai contoh pakan
hijauan antara lain : rumput unggul, runput lapang, jerami padi dan jagung, daun pucuk
tebu dan lain-lain.
Pakan konsentrat, dibedakan menjadi pakan konsentrat sumber energi, adalah bahan
pakan dengan kandungan serat kurang dari 20 % dan kandungan rnrgi lebih dari
2.250kkalori/ kg. Contoh pakan dalam kelompok ini antara lain : ubi jalar, ketela pohon,
pati , teyes, dedak , bisa dedak padi, jagung,dll. Sedang pakan konsentrat yang satunya
digolongkan kedalam pakan konsentrat yang mengandung protein kasar lebih dari 20 % .
Contoh pakan yang masuk dalam kelompok ini adalah : ampas tahu, bungkil kedele,
ampas bir dan daun kacang-kacangan.
Secara umu pakan sapi terdiri dari hijauan antara lain berasal dari rumput
lapangan , rumput unggul, limbah pertanian , leguminosa dan hijauan lain. Permasalahan
yang dihadapi peternak adalah pakan hijauan di wilayah Indonesia pada umumnya
kurang baik sehingga untuk memenuhi kebutuhan gizi ternak perlu tambahan pakan
konsentrat. Oleh karena itu penggemukan sapi yang hanya diberi pakan hijauan saja
tanpa ditambah pakan konsentrat tidak mungkin pertambahan bobot badan bisa maksimal
seperti yang petani harapkan.Sebagai contoh ternak sapi putih ( PO ) dara yang
mendapat pakan ruput lapang dan jerami padi bobot badan yang dicapai berkisar 0,24
kg/ekor/hari dibandingkan sapi potong yang mendapat pakan rumput lapang dan jerami
dengan ditanbahn konsentrat bobot badan yang dicapai 0,65 kg/ekor/hari ( Subiharta, et
al, 2005 ) . Laporan lain untuk sapi jantan lokal yang hanya diberi rumput gajah terbatas
bobot badan yang dicapai hanyan 0,31kg/ekor/hari ( Samudin ,et al,1989, dalam Enawati
dan Nuscati, 2006 ).
Beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam pemberian pakan :
a. Sebelum usaha penggemukan dilaksanakan ternak harus diberi obat cacing.
Cacing merupakan parasit yang menggangu peretumbuhan. Ikuti petunjuk
dalam pemberian obat cacing.
b. Pemberian pakan, penberian pakan konsentrat sebaiknya dilakukan 2-3 jam se
belum pemberian hijauan, agar ternak mendapatkan gizi yang cukup sesuai
kebuthan.
c. Jumlah pemberian hijauan segar sebanyak 10 % dari dari bobot badan ,
hijauan sebaiknya dicacah sepanjang 2-3 cm.Sedang untuk pakan jering
penberian sebanyak 3 % dari bobot badan ( kadar air hijauan 80 % ).
d. Jumlah penberian konsentrat disesuaikan dengan jenis sapinya. Untuk sapi
lokal jumlah pemberian cukup 1 % dan sapi peranakan jumlah pemberian 2 %
dari bobot badan.
e. Jika akan mengubah pakan sebaiknya peberian secara bertahap biar sapi
tebiasa dengan pakan yang baru, selanjutnya penberian disesuaikan dengan
kebutuhan.
f. Air minum disediakan terus menerus dalam kandang, karena kandungan air
dalam pakan belum mecukupi kebutuhan . Untuk daerah dataran rendah yang
Terperaturnya panas air minum mutlak harus ada di kandang.